Batang - Di Dukuh Proto Desa Tambahrejo Kecamatan Bandara Kabupaten Batang, mencuci bukan sekadar rutinitas pekerjaan rumah tangga, tetapi juga sudah semacam ritual sosial untuk berinteraksi sebatas membicarakan tentang kebutuhan sehari-hari, anak, dan informasi trending artis papan atas, serta isu sosial.
Mencucui di sungai sudah menjadi tradisi turun-menurun sebagian masyarakat desa. Alasannya, tradisi mencuci pakaian di tepi sungai lebih melimpah airnya, dan dipercaya pakaian lebih awet dibanding mencuci memakai mesin. Jumat ( 22/5/26 ).
Toipah (40) warga Dukuh Proto, RT 02 RW 01, Desa Tambahrejo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang menyampaikan, air lebih melimpah saat mencuci pakaian di sungai, dibandingkan memakai pompa listrik di kamar mandi. Hal ini juga karena ramah lingkungan karena irit energi listrik dan air. “Melimpah, dan gratis, jadi hemat listrik, ” ucapnya, sambil mengucek pakaiannya.
Menurutnya juga, ia berkeyakian mencuci pakaian tanpa mesin lebih memperpanjang usia pakaian. Selain itu, mencuci tanpa mesin mudah menghilangkan noda bandel di sisi kerah pakaian. Sebelum jembatan dibangun, banyak ibu-ibu yang harus turun langsung ke sungai untuk mencuci pakaian, serta untuk menyeberangkan ke kebun, ladang, sawah dan ke dukuh sebelah.
Pembangunan jembatan gantung dinilai sangat vital oleh warga. tak terkecuali Ibu-ibu yang mencuci baju di sungai. Ibu-ibu merasa jauh lebih aman dan lega karena mereka tidak perlu lagi bertaruh nyawa menyeberangi sungai berarus deras..
Sebelum adanya jembatan, ibu-ibu sering kali kesulitan membawa hasil bumi atau kebutuhan pokok karena harus memutar sangat jauh. ungkap Ibu Toipah.

Updates.